Terjebak Dalam Suatu Kisah

Aku mempunyai teman . Yaah, mungkin bisa dibilang sahabat. Namanya Aura. Aku berteman dengannya sejak kelas 1 smp. Tapi, kadang-kadang sikapnya aneh. Sering sensi, marah dan sebagainya. Terkadang aku bingung sendiri melihatnya. Sedikit-sedikit ia marah dengan alasan yang tak jelas. Sampai-sampai aku, Rena, Rendy dan Rino heran melihatnya. Oh iya Rena, Rendy dan Rino juga sahabatku. Mereka berempat yang sering mendengarkan curhatanku. Kita berlima satu kelas. Namun, ketika aku ada masalah, aku jarang sekali menceritakan masalah yang terjadi ke Aura. Karena jika ada sesuatu hal yang aku ceritakan ke Aura, ia selalu menyebarkan ceritaku kepada orang lain. Lain halnya dengan keempat sahabatku tadi, mereka selalu memberiku masukan dan saran. Dan ternyata tidak aku saja yang berpikiran bahwa jika ada masalah yang dicertakan kepada Aura pasti disebarkan ke orang lain. Pertamanya aku masih bisa percaya kepadanya kalau ia tidak seperti ember bocor. Karena ember bocor itu, setiap kali diisi air pasti tumpah. Seperti halnya orang yang diberi rahasia, lalu ia akan menceritakan kepada orang lain.Tetapi lama-kelamaan memang benar apa yang dibicarakan oleh teman-temanku. Jadi jika ada sesuatu rahasia atau hal penting, pasti kita berusaha untuk tidak menceritakan kepada Aura. Sampai-sampai aku berpikir apa kita yang salah melihatnya ? apa memang dia seperti itu. Aku dan teman-teman selalu heran jika si Nela, alias nenek lampir itu beraksi dikelas. Ia sering banget mencari masalah dengan siapa aja. Gak peduli itu guru, teman dan yang lainnya. Selain mencari masalah, ia juga sering caper alias cari perhatian. Alhasil banyak juga yang gak peduli’in dia, malah banyak yang ilfeel jadinya.

“ah !! males banget deh . ngapain sih dia nyari ribut segala ! jangan beraninya di belakang ! di depan dongg !!” seru Nela ketika siang hari dikelas. Kebetulan saat itu jam pelajaran kosong. Hah? Gakpapa tuh si Nela. Waktu datang tiba-tiba marah-marah gak jelas.Dalam hati gue bilang “ ah , elo sekarang bilang kayak gini, coba elo yang gitu. Gak malu tuh, sendirinya kayak gitu?”. Saat itu aku merasa sebel dengannya, Karena dia bilang gitu. Ketika suatu hari dia gak suka sama temenku dia juga beraninya ngomong dibelakang. Nah ini ngapain dia ngomong kayak gitu. “Gak inget sama yang dilakuin ?” dan kebanyakan anak-anak jadi risih liat si Nela beraksi. Tapi udahlah, kalo ngomongin soal Nela sih kagak ada abisnya. Ntar jadi kita lagi yang dosa.
Ketika hari minggu kita berlima biasanya berkumpul bersama. Entah, itu jalan-jalan, nonton dan sebagainya. Dan biasanya kita bercerita-cerita dan serua-seruan. Dan ketika pulang dari maen, Rendy sms ke aku bilang kalau Rino suka sama aku. Sama sekali aku tidak berpikiran tentang itu. Kenapa Rino sampai menyukai aku. Dan setelah beberapa bulan, aku dan Rino berpacaran. Akan tetapi ketika kami pacaran, kami tidak pernah melanggar aturan yang ada. Khususnya aturan agama. Kami selalu mematuhi peraturan-peraturan itu. Dan kita pacaran yang sewajarnya saja. Menurut pendapat kami, orang berpacaran itu tidak harus orang yang ingin memegang tangan, kencan, berciuman dan sebagainya. Akan tetapi, pasangan kita bisa memberi support atau dukungan dalam berbagai hal. Supaya hidup kita lebih semangat. Jangankan untuk pergi kencan, aku dan Rino sama sekali tidak pernah berpegangan tangan. Karena menurut kami, tidak harus seperti itu. Menurutku Rino merupakan orang yang sangat perhatian. Dan saat smsan, aku dan Rino selalu janjian. Entah itu sholat, belajar atau sebagainya. Hanya Rena dan Rendy yang tau hubungan aku dengan Rino. Dan teman-teman yang lain pun tidak mengerti hubungan aku dengan Rino saat itu. Begitu pula dengan Aura, ia juga tidak mengetahui hal ini. Memang sengaja kami berempat tidak memberi tahu dia. Tanggal 15 september 2011, tanggal itulah aku berpacaran dengan Rino. Dan disisi lain, ternyata Rena juga berpacaran dengan Rendy. Sungguh aku tidak menyangka ketika hari itu, kita berempat yang bersahabat ini bisa berpacaran dan tanggalnya pun sama. Ketika hari sabtu…

“Eh, gue mau curhat nih ..” seru Aura dengan wajah yang alay alias berlebihan. “emangnya apa’an sih?” Tanya Rena dengan heran. “tapi kali ini gue ceritanya ke kalian aja. Gue gak bakal certain ini ke Rendy dan Rino” jawab Aura. “looh? Bukannya kalo kita lagi ada sesuatu harus diceritain bareng-bareng?” Tanya aku dengan penuh kebingungan. Dan saat itu tiba-tiba Rena bilang ke Aura kalau kita akan menceritakan siapa cowok yang disukai kita masing-masing. Dan kita sudah janji kalau akan menceritakan siapa cowok itu. Tapi Rena bilang kepadaku kalau kita cerita kepada Aura tentang cowok itu cuman suka aja. Tapi gak pacaran. Karena Rena sangat heran siapa cowok yang selama ini disukai oleh Aura. Dengar-dengar sih sahabat Aura sendiri. Ternyata tadi wajah Aura yang alay itu mau nyeritain tentang cowok yang dia suka. Alhasih tepat juga. Dan kita memulai cerita kita. Aura yang terlebih dahulu bercerita tentang siapa cowok itu. Ketika ditengah-tengah ia menyebutkan siapa cowok yang selama ini ia cinta. Ternyata cowok itu Rino. Sungguh aku dan Rena tidak mengerti apa maksud Aura. Karena selama ini jika Aura ditanya ia selalu mengelak kalau ia suka pada Rino. Dan yang semula aku dan rena ingin bercerita tentang cowok masing-masing, akhirnya aku dan Rena saling berbisik dan memutuskan untuk tidak bilang bahwa cowok yang aku suka Rino. Aku tau walaupun Aura kadang jahat, sensi, dan iri ke aku tapi aku gak tega buat mengatakan itu. Karena aku dan Rena tau, baru pertama kali ini ia jatuh cinta. Dan kita juga gak pernah melihat aura sesenang ini. Jadi kita memutuskan untuk seperti itu. Aku dan Rena pun sempat bingung dengan jalan pikiran Aura. Dan yang aku sesalkan Cuma satu, “kenapa Aura baru bilang sekarang kalau ia cinta kepada rino, kenapa ketika aku sudah berpacaran dengan Rino ?”. tapi ya sudahlah. Dan ketika sehabis pulang sekolah, aku langsung sms Rino. Dan sebelumnya aku meminta maaf, karena tujuan aku sms Rino adalah memutuskannya. Awalnya Rino marah, jengkel dan tidak bisa menerima semua ini. Tetapi setelah aku jelaskan apa yang telah terjadi, sedikit demi sedikit Rino mengerti tetapi dia masih sulit untuk mengikhlaskannya. Dan juga tidak bilang bahwa siapa cewek yang menyukai Rino. Dan sampai saat ini Aura dan teman-teman yang lainnya masih tidak mengerti kalau aku pernah memiliki hubungan dengan rino. Dengan adanya kejadian ini aku dan Rino tidak banyak menyesal walaupun rasa sesal itu ada. Tapi kita lebih mencari pengalaman dan pelajaran dari kejadian tersebut. Dan setelah putus, aku dan Rino berteman seperti dulu layaknya seorang sahabat. Dan kita tidak pernah mengungkit-ungkit masalah itu. Kita berteman sebagaimana sahabat sejati. Jika Rino tau kalau Aura yang suka padanya Aino akan marah, karena sempat dia berpikir aku merelakannya demi sahabatku sendiri. Dan itu memang benar, sekalipun Aura seperti itu, dia tetap sahabatku. Dan tidak ada yang lebih indah dari persahabatan. Memang, mempunyai sahabat lawan jenis itu seru, tapi resikonya adalah jatuh cinta.

Iklan
By anisrhm Posted in Cerpen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s